Kemenag Tapteng Bentuk Generasi Madrasah Berkarakter Lewat PGM 2026 di Barus

oleh -47 views

Keterangan Foto: Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tapanuli Tengah Dr. H. Awaluddin Habibi Siregar, M.A. bersama Ketua Panitia PGM 2026 Ahmad Jailani Nasution, para Kepala Madrasah selaku Kamabigus, pembina dan peserta saat Perkemahan Gebyar Madrasah (PGM) 2026 di Barus, Tapanuli Tengah.

BARUS, TAPANULI TENGAH(LN) – Bukan sekadar mendirikan tenda dan mengikuti perlombaan. Perkemahan Gebyar Madrasah (PGM) 2026 di Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, dirancang menjadi ruang belajar di alam terbuka untuk membentuk generasi madrasah yang disiplin, mandiri, terampil, berprestasi dan peduli lingkungan.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 22–24 Agustus 2026, tersebut diikuti 78 regu dari seluruh madrasah se-Kabupaten Tapanuli Tengah, mulai dari tingkat Siaga, Penggalang hingga Penegak.

Mengusung tema “Berkemah untuk Karakter, Berkarya untuk Negeri”, PGM 2026 menjadi bagian dari upaya Kementerian Agama Kabupaten Tapanuli Tengah memperkuat pendidikan karakter peserta didik melalui kegiatan kepramukaan, keagamaan, keterampilan dan kepedulian lingkungan.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tapanuli Tengah Dr. H. Awaluddin Habibi Siregar, M.A., jajaran Kemenag Tapanuli Tengah, para Kepala Madrasah selaku Kamabigus, Ketua Panitia Ahmad Jailani Nasution, S.Pd.I., M.Pd., para pembina serta peserta dari berbagai madrasah.

Bukan Sekadar Berkemah

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tapanuli Tengah, Dr. H. Awaluddin Habibi Siregar, M.A., mengatakan PGM 2026 menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter peserta didik.

Menurutnya, pendidikan karakter tidak cukup hanya dilakukan melalui pembelajaran di dalam kelas. Peserta juga membutuhkan pengalaman langsung yang mengajarkan kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab dan kemampuan bekerja sama.

“Perkemahan Gebyar Madrasah ini kita laksanakan dalam rangka membangun karakter, disiplin dan keterampilan anak-anak madrasah. Kita ingin mereka mendapatkan pengalaman yang tidak hanya diperoleh di dalam kelas, tetapi juga melalui kegiatan di alam terbuka,” ujar Awaluddin.

Selama mengikuti perkemahan, peserta dituntut mengatur waktu, menyelesaikan tugas bersama kelompok, menaati aturan dan menjaga kekompakan. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bekal peserta dalam kehidupan sehari-hari.

78 Regu Adu Kreativitas dan Keterampilan

Selama tiga hari, 78 regu mengikuti berbagai kegiatan yang menggabungkan unsur pendidikan, kepramukaan, keagamaan dan kompetisi.

Sejumlah kegiatan yang digelar antara lain lomba yel-yel, parade semaphore, tilawah, pionering, lomba memasak, Lomba Ketangkasan Baris-Berbaris (LKBB) dan syarhil.

Ketua Panitia PGM 2026, Ahmad Jailani Nasution, S.Pd.I., M.Pd., mengatakan seluruh kegiatan dirancang agar peserta mendapatkan pengalaman yang berkesan sekaligus mampu mengembangkan berbagai potensi.

“PGM ini kita rancang bukan hanya sebagai ajang perlombaan, tetapi juga sebagai wadah pembinaan bagi peserta didik madrasah. Kita berharap melalui kegiatan ini peserta dapat meningkatkan kedisiplinan, kemandirian, kerja sama, keterampilan dan sportivitas, serta mempererat silaturahmi antarmadrasah,” ujar Ahmad Jailani.

Menurutnya, keberadaan 78 regu dari berbagai madrasah juga menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan antarpeserta.

Barus Jadi Ruang Belajar Sejarah Islam

Tidak hanya berbicara tentang karakter dan keterampilan, PGM 2026 juga membawa peserta lebih dekat dengan sejarah Barus.

Barus dipilih karena memiliki nilai sejarah penting dalam perjalanan perkembangan Islam di Nusantara. Karena itu, peserta diarahkan untuk mengenal sejarah daerah secara langsung, sehingga pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas.

“Kita juga ingin mengenalkan sejarah masuknya Islam kepada anak-anak madrasah. Barus memiliki sejarah yang sangat penting. Karena itu, anak-anak tidak hanya berkemah dan mengikuti perlombaan, tetapi juga mengenal sejarah Islam yang ada di Barus,” kata Awaluddin.

Upaya tersebut diharapkan menumbuhkan rasa bangga peserta terhadap sejarah daerah sekaligus memperluas wawasan mereka mengenai perjalanan Islam di Indonesia.

Belajar Mencintai Lingkungan dari Tepi Sungai

Pesan kepedulian terhadap lingkungan juga menjadi bagian penting dalam PGM 2026.

Lokasi perkemahan yang berada di sekitar sungai sengaja dimanfaatkan sebagai ruang belajar bagi peserta. Mereka tidak hanya tinggal di alam terbuka, tetapi juga diajak memahami bagaimana menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Salah satu bentuk nyata kegiatan tersebut adalah penanaman pohon di sekitar sungai yang melibatkan peserta.

“Kegiatan ini kita buat di samping sungai agar anak-anak memiliki wawasan lingkungan. Kita ingin mereka belajar mencintai alam, menjaga kebersihan dan memahami bahwa lingkungan harus dijaga bersama,” ungkap Awaluddin.

Kegiatan penanaman pohon tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa pembentukan karakter tidak hanya berkaitan dengan kedisiplinan dan prestasi, tetapi juga kepedulian terhadap lingkungan.

Karakter Jadi Bekal Setelah Perkemahan

Pada hari terakhir, Senin (24/8/2026), peserta mengikuti olahraga, kegiatan pribadi, apel pagi, LKBB, lomba syarhil, gladi upacara penutupan, hingga upacara penutupan dan pengumuman pemenang lomba.

Rangkaian kegiatan kemudian diakhiri dengan pembongkaran tenda dan sayonara.

Kemenag Tapanuli Tengah berharap nilai-nilai yang diperoleh selama tiga hari perkemahan tidak berhenti ketika peserta meninggalkan lokasi kegiatan.

PGM 2026 diharapkan mampu melahirkan generasi madrasah yang cerdas secara akademik sekaligus kuat dalam karakter; disiplin, mandiri, kreatif, terampil, berani, mampu bekerja sama, menjunjung sportivitas, peduli lingkungan, memahami sejarah dan berakhlakul karimah.

Semangat “Berkemah untuk Karakter, Berkarya untuk Negeri” pun diharapkan terus hidup dalam diri peserta dan diwujudkan melalui tindakan nyata di madrasah, keluarga maupun masyarakat.

Dari Barus, Kemenag Tapanuli Tengah menanamkan satu pesan penting: pendidikan karakter bukan hanya tentang apa yang dipelajari, tetapi tentang bagaimana nilai tersebut dijalankan dalam kehidupan.(.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *