Sarop Do Mulana, Olahan Sampah yang Menjelma menjadi Usaha Beromzet Puluhan Juta

oleh -758 views
Keterangan Foto : Sarop Do Mulana, Olahan Sampah yang Menjelma menjadi Usaha Berozet Puluhan Juta.( Penulis Sukriadi Tanjung)

Batangtoru (LN) – Filsuf Yunani, Heracleitos pernah berkata “Satu-satunya yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri.”

Apa yang disampaikan filsafat kuno pada rentang waktu 540-480 SM ini, benar adanya. Karena hakikatnya, melawan perubahan berarti menentang arus kehidupan.

Barangkali ungkapan Heracleitos inilah yang memotivasi Siddik Tanjung (41) dan enam orang kawan senasibnya untuk memperjuangkan kesejahteraan mereka dari yang serba kekurangan menjadi berkecukupan.

Keterangan Foto : Sarop Do Mulana, Olahan Sampah yang Menjelma menjadi Usaha Berozet Puluhan Juta.

Pasalnya, Siddik Tanjung, warga Kelurahan Wek II, Kecamatan Batangtoru, Kab. Tapanuli Selatan ini hanya seorang tukang parkir yang kerap mangkal di Pasar Batangtoru. Sedangkan kawan senasib dengannya bekerja serabutan.

“Berapalah penghasilan tukang parkir,” kata Siddik mengawali obrolan kami di Wek II, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, pada Sabtu (20/4/2024).

Berbekal ijazah SMA, Siddik dan kawan-kawan melamar pekerjaan ke PT. Agincourt Resources (PTAR), Pengelola Tambang Emas Martabe, di Desa Aek Pining, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Keterangan Foto : Hasil dari olah samapah yang berubah jadi barang berharga tinggi.

“Namanya pun cuma tamat SMA, manalah diterima bang,” ucap Siddik mengulang keluh kesah mereka beberapa tahun silam.

Perusahaan tambang menolak ‘lamaran’ Siddik Cs karena tidak memenuhi spesifikasi keahlian untuk bekerja di tambang.

Meskipun ditolak, kepada mereka ditawarkan kesempatan mendukung program PTAR berbasis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

PTAR meminta tujuh sekawan tersebut membentuk komunitas.

Tidak butuh waktu lama, pada tahun 2016 terbentuklah Komunitas Mandiri Produktif (Komapro) dibawah binaan PTAR.

Komunitas yang sehariannya mengolah sampah dari Pasar Batangtoru menjadi pupuk kompos ini diperuntukkan mendukung program pertanian di wilayah lingkar tambang.

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 2017, Komapro akhirnya bertransformasi menjadi usaha berbadan hukum Koperasi. Tepatnya tanggal 4 April 2017. berdirilah Koperasi Sarop Do Mulana.

Koperasi Sarop Do Mulana yang beralamat di Wek II, Kecamatan Batangtoru, Kab. Tapanuli Selatan ini adalah koperasi usaha mabel. Uniknya, koperasi ini mengolah limbah/ sampah bekas palet ekspedisi PTAR yang tidak digunakan lagi.

Palet yang didapatkan secara gratis dari perusahaan itu, diolah menjadi produk furniture yang bermanfaat dan bernilai ekonomis.

Beberapa produk keluaran koperasi ini diantaranya meja, kursi, lemari dan rak.

“Pesanan kami paling sering itu dari PTAR, pengusaha kafe, kantor dan sekolah,” ujar Siddik.

Selain itu, untuk palet bekas yang tidak terpakai sama sekali akan diolah menjadi sawdust (serbuk gergaji) dan dikirim ke departemen lingkungan PTAR untuk diolah menjadi pupuk kompos.

Siddik yang merupakan bendahara Koperasi Sarop Do Mulan aini mengatakan, sejak menjadi koperasi, dia dan kawan-kawan didorong oleh perusahaan tambang menjalankan usaha secara profesional.

Pihak PTAR sendiri ‘setia’ melakukan pembinaan dan pendampingan.

Awalnya, baik Siddik dan enam kawannya yang lain tidak paham dunia usaha mebel. Akan tetapi, pihak PTAR mendatangkan pelatih berkualitas untuk melatih menjalankan usaha mebel dan belajar keterampilan membuat aneka macam jenis furniture.

Untuk menjalankan usahanya, Siddik dan kawan-kawan harus berjibaku memasarkan produknya kepada konsumen dengan metode door to door.

Bermodalkan foto dan beberapa contoh produk yang mereka hasilkan, konsumen diberikan pemahaman akan kualitas dan keunggulan produk furnitur ala Sarop Do Mulana.

“Alhamdulillah, hari ini omzet kami dalam sebulan itu mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah,” bongkar Siddik.

Dari usaha tersebut, Koperasi juga mampu memberikan gaji tetap kepada puluhan karyawannya dan gaji harian kepada pekerja harian yang sengaja direkrut untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu.

“Dari usaha ini, kini kawan-kawan yang sudah berumah tangga dapat membiayai keluarganya. Dan mereka yang belum berkeluarga sudah bisa membiaya hidupnya sendiri. Tidak tergantung lagi kepada keluarga atau sanak famili,” beber Siddik.

Atas nama kawan-kawan seperjuangan, Siddik berterimakasih kepada PTAR yang selama 7 tahun ini terus memberikan dukungan moril maupun materil hingga Koperasi Sarop Do Mulana tersebut tetap beroperasi hingga hari ini.

“Atas nama kawan-kawan saya menyampaikan terimakasih kepada perusahaan tambang PTAR. Kami yang dulunya pekerja serabutan, kini sudah berpenghasilan tetap,” pungkasnya.(st/02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *