
“Life is 10% what happens to you and 90% how you react to it. Itu adalah pepetah lama yang dikatakan oleh Charles R. Swindol, yang dapat diartikan bahwa dinamika hidup yang membawa permasalahan hanya berbobot 10% mempengaruhi kita, 90% lagi adalah tentang bagaimana kita meresponnya.”
Secara mikro, ekonomi masyarakat dikurun batas waktu 2019 silam bisa dikatakan berlangsung normal, kendati sesekali goyang karena faktor kebijakan global namun stabilitas ekonomi masih tetap dikategori kewajaran. Problem massive bernama COVID-19 yang kemudian menjadi bencana itu akhirnya datang melanda, wabah yang meluluh-lantakkan peradaban dunia saat itu, dengan sangat cepat menjangkiti manusia, berpindah-pindah kesana kemari, mengambil korban jiwa tanpa tebang pilih dan lama mengendap, terus menggerogoti sehingga memberikan efek kemunduran berbagai lini sektor kehidupan yang mengerucut pada ancaman kesehatan, ekonomi dan finansial yang hingga sampai saat ini butuh penanganan. Saat itu kita melawan virus ini dengan cara yang tidak pernah kita alami sebelumnya: pembatasan interaksi sosial.
Pak Samsul Bahri Efendi, mungkin bisa menjadi sosok menarik untuk kita cermati kisahnya sebagai pemeran utama inspirasi dari tajuk ini, tentang keberhasilan dalam menarik hikmah pandemi menjadi berkah tersendiri. Usianya yang tak lagi muda bukan penghalang dalam bekerja mencukupi kebutuhan keluarganya yang sederhana. Hampir saban hari keluar rumah sejak dini, mendorong gerobak kayu beretalase tua, untuk menjajakan kolak dagangannya ke sekolah SMP dan SMA yang berjajar. Di masa pandemi yang sedang menggila, Pak Bahri, sapaannya, nyaris ikut menggila. Bagaimana tidak? Menghidupi 4 anak yang masih bersekolah dengan bertumpu pada usaha kecil dari dagangan kolaknya, hanya dibantu istri berprofesi tukang cuci pakaian rumah ke rumah. Kebijakan men-daring-kan para siswa dan sekolah tanpa aktifitas fisik, membuat dirinya kehilangan pasar secara dadakan karena pelanggannya adalah para anak sekolah dan guru di masa istirahat atau pulang sekolah. Berbulan-bulan keluarga mereka hidup dari bantuan sosial yang diberikan pemerintah sebagai solusi cepat penanganan dampak pandemi.
Adaptasi Kebiasaan Baru Melek Digital
Faktanya adalah fenomena pandemi menuntut semua orang harus berubah. Membiasakan diri pada aktifitas baru yang dekat dengan digitalisasi. Sekolah, berlangsung daring dari rumah, menggunakan smartphone atau laptop sebagai media. Pegawai kantor pun demikian, WFH, meeting lewat platform zoom. Semua aktifitas fisik bertransformasi ke virtual, bahkan pasar konvensional pun menjelma dengan sendirinya menjadi maya. Alhasil, transaksi non tunai pun ikut berbanding lurus dengan skema grafik yang kian meningkat. Para pengusaha banyak yang tersadar, bahwa pasar online dan sistem pembayaran digital adalah sebuah solusi terbaik dalam kelangsungan usahanya di masa pandemi yang penuh keterbatasan. Dan pada titik ini, inovasi-inovasi dalam perdagangan online gencar digiatkan. Melek digitalisasi yang selama ini terus dikampanyekan pemerintah dengan berbagai macam strateginya agar masyarakat mampu menerima dan berkapabalitias untuk mengolah fungsikan khazanah platform dan aplikasi dengan secara tak sadar dinaturalisasi begitu saja meski diawali dengan keterpaksaan dan proses adaptasi yang mungkin tidak mudah bagi para orang tua khususnya, tapi itu benar-benar terjadi dan kita semuanya telah berubah. Ketika Pak Bahri menjajal e-commerce, dibantu putra sulungnya yang bersekolah di SMK jurusan Tekhnik Jaringan, yang sudah akrab dengan digital, kolaborasi insting bisnis ayah dan skill mumpuni sang anak dibidang IT menghasilkan pendapatan dari ranah baru, meski dipasarkan dari media sosial, dagangan kolak yang rutin ditawarkan lewat postingan, story bahkan nge-spam di group-group Whatsapp mendatangkan pelanggan yang justru lebih banyak. Sekalipun harganya sedikit dinaikkan, namun karena kemasan yang rapi dan higienis kemudian ditambah service delivery yang cekatan, tak ada konsumen yang keberatan. Justru kaum rebahan yang sedang tersandra kebijakan PSBB/PPKM merasa dimudahkan dan dipuaskan. Awalnya Pak Bahri banting kemudi dari tukang kolak pinggir jalan menjadi tukang kolak ‘postingan’ hanya untuk survive dari masa-masa sulit di era pandemi, dengan omzetnya yang terus meningkat hingga 200%-300% atas pemesanan rutin dan lancar terutama dari group para siswa dan kantor-kantor instansi yang dulunya tidak menjangkau lapak dagang offline Pak Bahri atau pelanggan yang enggan penyajian pinggir jalan dan menunggu antrian, nikmat kolak Pak Bahri yang dikemas dan bersistem take away delivery jauh lebih diminati, Pak Bahri dan keluarga kini malah lebih sejahtera. Bahkan inovasi terus dilakukannya dengan membuka jasa antar jemput pesanan lainnya yang dibutuhkan pelanggan selain kolak miliknya. Setelah memiliki banyak kurir baru, Pak Bahri menerapkan opsi sistem pembayaran non tunai via transfer dan QRIS, agar terhindar dari transaksi corrupt dan lebih akuntabel. Akhirnya semua menjadi anomali, kata siapa pandemi hanya bikin rugi?
Otomasi Hikmah Pandemi
Cerita keberhasilan Pak Bahri adalah teladan yang baik tentang teori fenomena dan respon sebagai kalimat pembuka artikel tadi. Sekaligus ini juga menjadi bukti kongkrit tentang bagaimana digitalisasi tidak hanya tentang perubahan proses tapi juga hasilnya yang semakin baik. Purchase (penjualan) dan payment (pembayaran) secara digital yang selama ini terkesan disambut masyarakat secara apatis karena kasus pandemi menjadi titik balik akseptansi (lebih diterima). Bahkan metode ini tidak hanya sekedar diterima tapi semakin diminati selepas pandemi. Oleh karenanya, Bank Indonesia dengan seksama mengambil langkah dan kebijakan populer mencermati trend ini dengan asa pemulihan ekonomi lewat inisiasi strategi pembayaran digital untuk meng-cover kecendrungan peningkatan akseptasi dan preferensi masyarakat. Satu gebrakan yang strategis dan solutif yang patut diapresiasi. Dengan tema presidensi G20 2022 ‘recover together, recover stronger’ (pemulihan kolektif dan semakin kuat).
Dilansir dari siaran pers di laman situs Bank Indonesia (www.bi.go.id), Gubernur BI, Perry Warjiyo mengungkapkan pertumbuhan Ekonomi Digital tumbuh dengan indikasi 12 juta merchant dan kini menuju 15 juta yang terlayani servis BI Fast. Artinya, Pak Bahri Efendi lainnya di seluruh Indonesia yang menjajal industri digitalisasi sebagai hikmah pandemi menjadi pilar pemulihan ekonomi bangsa pasca pandemi yang awalnya justru merekalah objek yang ingin dipulihkan.
Jadi apakah harus ada pandemi lagi, baru masyarakat nge-gas dengan inovasi berbasis digital? Tentu saja tidak! Anda tidak harus tenggelam lagi untuk membuktikan diri sudah bisa berenang? Dengan semua kemudahan akses dan kesederhanaan sistem pembayaran digital serta ratusan program-program penyanggah UMKM yang terus dibina mulai dari permodalan, branding, sertifikasi dan integrasi perbankan, otomasi melek digital yang kini membuat kita andal dalam ‘berenang’ itu, melapangkan peluang dan pilihan, mau di ‘perairan’ mana kita ingin berenang dan bersenang-senang? Seperti Pak Bahri dan belasan juta orang lainnya sebagai representasi keren tentang cerita sebuah kemajuan! (Penulis: Irfan Arhamsyah Sihotang)








