Revitalisasi Analisis perempuan Dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0, Learning 5.0 dan Perkembangan Teknologi

oleh -2,343 views

Tapteng  – Himpunan mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pers. Sibolga Tapanuli Tengah laksanakan Pembukaan Latihan Khusus Kohati (LKK) yang dibuka di Gedung Balai Gendis Pandan. Yang dilaksanakan sektetariat gedung HMI,Jalan Paisal Tanjung, Aek Tolang, Tapteng. Selasa ( 21/09/2021) pagi.

Penjelasan materi yang di sampaikan oleh Dra. Hj, Gefarina Djohan M.A (Ketua Kohati PB HMI 1988-1990) menjelasakan,

TIGA KEMAMPUAN YANG DIBUTUHKAN DI MASA DEPAN

    1. Kognitif, Kemampuan memecahkan masalah yang kompleks. Punya kemampuanmemahami sesuatu (literasi), dan berpikir kritis.
    2. Softskill, Kemampuan berkomunikasi, berempati, punya growth  mindset, dan adaptif.
    3. Teknologi.

society 5.0 ini lebih mengarahkan bagaimana kita menggunakan teknologi itu sendiri. Apa kepentingannya. Landasan kita menciptakan ini dan itu, dan seperti apa kita bisa memanfaatkan dan hidup berdampingan dengan teknologi itu sendiri.

Revolusi industri 4.0 ini membuat manusia jadi lebih modern karena memiliki akses terhadap teknologi, society 5.0 adalah masa di mana teknologi-teknologi ini menjadi bagian dari manusia. 

    • Well, memang terkesan too good to be true.
    • Tetapi, paling tidak, dari sini  kita jadi terbayang, seperti apa, sih, gambaran besar kehidupan di masa depan?
    • Apa yang bisa kita lakukan untuk bisa survive di masa itu.

MANUSIA DAN TEKNOLOGI

Teknologi merupakan keseluruhan cara yang secara rasional mengarah pada ciri efisien dalam setiap kegiatan manusia. Seseorang menggunakan teknologi karena manusia berakal, dengan akalnya manusia ingin keluar dari masalah, ingin hidup lebih baik, lebih mudah dan aman. Perkembangan teknologi terjadi ketika seseorang dengan menggunakan alat dan akalnya menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

Perkembangan teknologi secara eksplisit sangat berhubungan dengan perkembangan masyarakat. Teknologi dalam masyarakat tertentu menunjukkan prosedur yang digunakandalam menemukan, memproduksi, menggunakan serta perawatannya. Determinisme teknologi dapat mengakibatkan konsekuensi sosial yang bersifat drastis. Masyarakat yang memilih teknologi alternatif pada umumnya disebabkan karena alternatif tersebut sesuai dengan tatanan masyarakat yang berlaku.Teknologi pada masyarakat tertentu menunjukkan alat-alat yang digunakan oleh anggota masyarakat pada setiap proses kehidupan.  Kemajuan teknologi akan pudar bila bentuk teknologi baru yang lebih menjanjikan dan lebih canggih ditemukan.

Teknologi kuno berkembang sangat lambat jika dibanding dengan perkembangan teknologi modern. Pada zaman sekarang jarak perkembangan teknologi adalah sangat drastis. Revolusi industri yang mulai berkembang pada abad ke 19 yang berupa pengembangan teknologi listrik, mesin dan kimia maka sekarang berkembang menjadi teknologi informasi

(Bell, Daniel. 1989: 164-176)

Salah satu contoh perkembangan teknologi adalah perkembangan teknoloagi komputer. Pada tahun delapan puluhan komputer XT merupakan personal komputer yang dianggap maju pada jamannya. Setelah itu perkembangan komputer jenis AT terjadi pada awal tahun 1990 an. Sejak tahun 1995 an berkembanglah komputer jenis Pentium, yang mempunyai kecepatan akses lebih tinggi sehingga menjanjikan bagi penggunanya.

Banyak sekali teknologi yang diciptakan oleh manusia dapat mempermudah pekerjaan perempuan. Teknologi tersebut adalah teknologi yang diciptakan untuk membuat perempuan menjadi lebih nyaman dan mudah dalam menjalankan aktivitasnya

Akses perempuan di bidang iptek masih terkendala oleh ketidaksetaraan gender. Hal ini disebabkan oleh peran perempuan yang banyak sebagai pengguna dari produk iptek bukan sebagai kreator.

Rendahnya peran perempuan dalam iptek juga dipicu oleh masih rendahnya tingkat pendidikan perempuan secara umum. Meskipun di kota-kota besar banyak sekali perempuan yang mempunyai tingkat pendidikan puncak akan tetapi kalau dalam skala makro maka keterwakilan perempuan dalam bidang iptek masih tergolong sangat rendah

Untuk mencapai kesetaraan gender dalam iptek masih sangat sulit untuk dilakukan karena dalam tataran policy gender mainstreaming masih sulit untuk diterapkan

Rendahnya peran perempuan dalam iptek juga dipicu oleh masih rendahnya tingkat pendidikan perempuan secara umum. Meskipun di kota-kota besar banyak sekali perempuan yang mempunyai tingkat pendidikan puncak akan tetapi kalau dalam skala makro maka keterwakilan perempuan dalam bidang iptek masih tergolong sangat rendah

  • Studi dan kajian dari berbagai negara menyebutkan bahwa perubahan teknologi memberikan dampak terhadap salah satu jenis kelamin.
  • Perempuan kurang terlibat secara maksimal baik sebagai pelaku pengembangan iptek, maupun sebagai pengguna hasil-hasil iptek. Partisipasi perempuan dalam pembangunan iptek juga masih jauh dibawah partisipasi laki-laki termasuk dalam  riset dan pengambilan keputusan terkait dengan kebijakan iptek.
  • Di dunia global, perempuan yang menggeluti bidang ilmu STEM (science, technology, engineering and mathematics) hanya 30 persen. Di Asia, 18% perempuan, sedangkan di ASEAN kurang dari 23% perempuan yang masuk jurusan teknik.

Data Kemeristekdikti tahun 2016 tentang perempuan yang bekerja sebagai tenaga kerja riset menunjukkan hal menarik. Jumlah perempuan sebagai peneliti atau teknisi jauh lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Perempuan lebih banyak berkarir sebagai tenaga pendukung seperti tenaga administrasi, padahal tingkat pendidikannya S1. Sementara laki-laki yang bekerja sebagai tenaga administrasi tingkat pendidikannya SMK-D3.

Pencapaian kesetaraan dan keadilan antara perempuan dan laki-laki dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) adalah persoalan hak asasi dan modal besar pembangunan bangsa dan negara. Kesetaraan dan keadilan gender dapat menjadi upaya strategis dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan, berkeadilan, dan maju.

Revolusi industri pertama terjadi pada akhir abad ke-18 yang ditandai dengan ditemukannya alat tenun mekanis pertama pada tahun 1784. Peralatan kerja yang awalnya bergantung pada tenaga manusia dan hewan akhirnya digantikan dengan mesin tersebut. Akibatnya, meski jumlah produksi meningkat, banyak orang yang menganggur. Revolusi industri pertama terjadi pada akhir abad ke-18 yang ditandai dengan ditemukannya alat tenun mekanis pertama pada tahun 1784. Peralatan kerja yang awalnya bergantung pada tenaga manusia dan hewan akhirnya digantikan dengan mesin tersebut. Akibatnya, meski jumlah produksi meningkat, banyak orang yang menganggur.

Revolusi industri 3.0 terjadi pada awal tahun 1970 yang dimulai dengan penggunaan elektronik dan teknologi informasi guna otomatisasi produksi. Sistem otomatisasi berbasis komputer ini membuat mesin industri tidak lagi dikendalikan manusia dan biaya produksi dapat ditekan sedemikian rupa.

Revolusi industri 2.0 terjadi pada awal abad ke-20 dengan pengenalan produksi masal berdasarkan pembagian kerja. Produksi masal ini menggunakan listrik dan jalur perakitan. Lini produksi pertama melibatkan rumah potong hewan di Cincinnati, Amerika Serikat, pada 1870.

Sejak awal 2018 hingga sekaranglah diperkirakanlah merupakan zaman revolusi industri 4.0. Dimana Industri 4.0 adalah industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber. Ini merupakan tren otomatisasi dan pertukaran data dalam teknologi manufaktur. Pada era ini, industri mulai menyentuh dunia virtual, membentuk konektivitas antar manusia, mesin dan dat, yang dikenal dengan nama Internet of Things. (Ril)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *